Social Icons

Rabu, 02 Maret 2011

BIOGRAFI PROFESOR KEN SUTANTO

Prof Ken Soetanto menggondol gelar profesor dan empat doktor selama bertahun-tahun mengabdikan hidupnya di Jepang. Prestasi akademiknya tersebut diakui di Jepang dan AS dengan menjadi profesor di usia 37 tahun. Pada 1988-1993, Soetanto yang juga direktur Clinical Education and Science Research Institute (CERSI) ini menjadi asosiate professor di Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson University, Philadelphia, USA. Ia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical Engineering Program University of Yokohama (TUY). Saat ini Prof Ken Sutanto tercatat sebagai prosefor di almameternya, School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University, dan profesor tamu di Venice International University, Italia. Gelar itu dirangkap dengan jabatan wakil dekan di Waseda University. Kemampuan otak pria kelahiran 1951 ini sungguh brilian karena mampu menggabungkan empat disiplin ilmu berbeda. Itu terungkap dari empat gelar doktor yang diperolehnya. Yakni, bidang Applied Electronic Engineering di Tokyo Institute of Technology, Medical Science dari Tohoku University, dan Pharmacy Science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar Waseda University. Di luar status kehormatan akademik itu, Prof Ken Soetanto juga masuk birokrasi di Negeri Sakura dan tercatat sebagai komite pengawas (supervisor committee) di METI (Japanese Ministry of Economy, Trade, and Industry atau semacam Menko Perekonomian di RI). Selain itu juga ikut membidani konsep masa depan Jepang dengan menjadi Japanese Government 21st Century Vision.

JAKARTA - Prestasi membanggakan ditorehkan Prof Ken Soetanto. Warga
Surabaya ini menggondol gelar profesor dan empat doktor selama
bertahun-tahun mengabdikan hidupnya di Jepang. Hebatnya lagi,
prestasi akademiknya tersebut diakui di Jepang dan AS dengan menjadi
profesor di usia 37 tahun.

Pada 1988-1993, Soetanto yang juga direktur Clinical Education and
Science Research Institute (CERSI) ini menjadi asosiate professor di
Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson
University, Philadelphia, USA. Ia juga pernah tercatat sebagai
profesor di Biomedical Engineering Program University of Yokohama
(TUY).

Saat ini pria beristri juga perempuan Surabaya ini tercatat sebagai
prosefor di almameternya, School of International Liberal Studies
(SILS) Waseda University, dan profesor tamu di Venice International
University, Italia.

Gelar itu dirangkap dengan jabatan wakil dekan di Waseda University.
Kemampuan otak pria kelahiran 1951 ini sungguh brilian karena mampu
menggabungkan empat disiplin ilmu berbeda. Itu terungkap dari empat
gelar doktor yang diperolehnya. Yakni, bidang Applied Electronic
Engineering di Tokyo Institute of Technology, Medical Science dari
Tohoku University, dan Pharmacy Science di Science University of
Tokyo.
Yang terakhir adalah doktor bidang ilmu pendidikan di almamater
sekaligus tempatnya mengajar Waseda University.

''Saya sungguh menikmati dengan pekerjaan sebagai akademisi,'' tutur
Soetanto dalam wawancara khusus dengan koran ini di President
University, Jababeka Education Park, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu
lalu. Soetanto kebetulan berada di Indonesia untuk mendampingi Dr
Kotaro Hirasawa (dekan Graduate School Information Production &
System Waseda University) dan Yukio Kato (general manager of Waseda
University) dalam penandatanganan MoU antara President University
dan Waseda University. President University adalah institusi
perguruan tinggi berbasis kurikulum bertaraf internasional yang
berlokasi di tengah-tengah sekitar 1.040 perusahaan di kawasan
industri Jababeka, Cikarang. Sebagian mahasiswa President University
berasal dari Cina, Vietnam, dan Jepang.

Di luar status kehormatan akademik itu, Soetanto juga masuk
birokrasi di Negeri Sakura. Pria yang pernah berkawan dengan mantan
presiden RI BJ Habibie ini ini tercatat sebagai komite pengawas
(supervisor committee) di METI (Japanese Ministry of Economy, Trade,
and Industry atau semacam Menko Perekonomian di RI). Selain itu juga
ikut membidani konsep masa depan Jepang dengan menjadi Japanese
Government 21st Century Vision.

''Pada jabatan tersebut saya berpartisipasi langsung menyusun GBHN
(kebijakan makro)-nya Jepang,'' tutur Soetanto yang masih fasih
berbahasa Indonesia dan Jawa berlogat Suroboyoan ini. Buah pemikiran
Soetanto yang terkenal adalah konsep pendidikan "Soetanto Effect"
dan 31 paten internasional yang tercatat resmi di pemerintah Jepang.

Dan, mau tahu berapa Soetanto digaji? Jumlahnya sangat mencengangkan
untuk ukuran akademisi bergelar profesor atau mereka yang pernah
menduduki jabatan tertinggi di perguruan tinggi (rektor).
Kementerian Pendidikan Jepang mengganjar Soetanto dengan gaji US$ 15
juta (Rp 144 miliar) per tahun. Sungguh "perhatian" dari pemerintah
yang luar biasa!

Di antara segudang prestasi itu, bisa jadi yang paling membanggakan,
khususnya bagi warga Surabaya, adalah latar belakang sekolah dasar
dan menengahnya yang ternyata dihabiskan di kota buaya. Soetanto
muda mengenyam pendidikan di SD swasta di Kapasari, SMP Baliwerti,
dan SMA Budiluhur yang dulu menjadi jujugan sekolahan warga
keturunan Tionghoa.

Kritikan untuk pendidikan RI oleh Prof. Dr. Ken Soetanto :

Seusai menandatangani MoU, Soetanto memberikan ceramah akademik
popular di hadapan ratusan mahasiswa President University. Isi
ceramahnya menarik perhatian mahasiswa bahkan beberapa jajaran
direksi PT Jababeka, termasuk Dirut PT Jababeka Setyono Djuandi
Darmono.
Maklum, Soetanto membeber pengalamannya bisa "menaklukkan" dunia
perguruan tinggi Jepang kendati dirinya hingga sekarang masih
berkewarganegaraan Indonesia . Apalagi, dirinya berasal dari Kota
Surabaya yang nyaris tak diperhitungkan di dunia akademisi Jepang.

Selebihnya, Soetanto banyak mengkritisi sistem pendidikan di
Indonesia yang perlu dibenahi untuk menghasilkan produk
berkualitas. ''Sistem pendidikan di sini (Indonesia) sudah
tertinggal jauh bahkan di bawah Malaysia dan Vietnam,'' jelas
Soetanto dengan gaya bicara berapi-api. Yang ironis, penghargaan
terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia juga sangat kurang.
Soetanto lantas mencontohkan kecilnya gaji guru yang memaksa mereka
harus bekerja sambilan.
''Dan, karena faktor tersebut jangan heran bila banyak ilmuwan
Indonesia mencari penghasilan di luar negeri,'' pungkas Soetanto.
Kendati demikian, pria berkaca mata ini awalnya belajar ke Jepang
bukan untuk semata-mata untuk mengejar materi alias duit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar