Social Icons

Sabtu, 15 April 2017

Museum Sekitar Sangiran dan Legenda Balung Buto yang Menyelimutinya

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog

Bagi masyarakat di sekitar lembah bengawan solo terutama di daerah sangiran, nama Balung Buto tidak asing di telinga mereka, balung buto memiliki arti tulang-tulang raksasa. pemahaman mereka terkait balung buto berkaitan dengan tradisi lisan mengenai perang besar yang pernah terjadi di kawasan perbukitan Sangiran, ribuan tahun silam. Dalam pertempuran itu banyak raksasa yang gugur dan terkubur di perbukitan Sangiran, sebagaimana “dibuktikan” lewat potongan-potongan tulang-belulang besar yang mereka namakan balung buto.

Sebelum kedatangan Koenigswald, balung buto dianggap memiliki kekuatan magis. Selain itu sebagai sarana penyembuhan berbagai penyakit, pelindung diri atau sebagai jimat, hingga membantu proses kelahiran. Maka, tidak heran bila pada kurun waktu sebelum 1930-an, balung buto banyak dicari oleh penduduk setempat. Hingga arkeolog mengubah pandangan itu.  

Setelah cerita diatas, pasti Sobat Blogger kepikiran tentang Museum Sangiran kan? nah tahukah sobat blogger bahwa Museum Sangiran itu tidak hanya di satu tempat? melainkan terdapat beberapa museum yang berada di wilayah Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, yaitu :
     a. Museum Sangiran Klaster Krikilan, yang merupakan museum terbesar dan yang paling terkenal
     b. Museum Sangiran Klaster Dayu
     c. Museum Sangiran Klaster Ngebung
     d. Museum Sangiran Klaster Manyarejo
     e. Museum Sangiran Klaster Bukuran
Dari kelima klaster yang ada admin bakal ngasih info 2 museum nih yaitu Museum Klaster Ngebung dan Museum Klaster Manyarejo, kira-kira... kenapa ya? Ada yang bisa jawab mungkin? YAP... dua museum inilah yang lebih membahas tentang apa itu Balung Buto!!! Selain itu, admin tertarik ke kedua Museum ini karena tingkat pengunjung masih rendah nih, padahal Sobat blogger disini kalo mau berkunjung nggak ditarik harga tiket lho alias gratisan. Paling cuma diminta buat bayar Rp. 2.000,00 buat bayar parkir disana.

Museum Sangiran Klaster Manyarejo

  Gambar peresmian Museum Sangiran Klaster Manyarejo
Diresmian pada tanggal 5 November 2014, memang museum-museum di klaster manyarejo, ngebung, dayu, dan bukuran dihitung masih muda karena memang museum ini didirikan karena untuk melengkapi museum sangiran klaster krikilan. Di museum Manyarejo ini, terdapat dua ruang pameran yaitu indoor dan outdoor di ruang outdoor terdapat display ekskavasi, yaitu penggalian fosil. Disini diperlihatkan bermacam tanah yang terdapat fosil di dalamnya.

Selanjutnya kita masuk ke ruang indoor, nah di indoor ini terdapat pameran beberapa fosil yang ada seperti replika tengkorak, kepala banteng, dan bola batu. Meskipun museum ini tentang manusia purba tapi jangan salah nih sobat blogger, kalo disini dan di semua museum sangiran itu dilengkapi dengan media elektronik yang dapat mempermudah pengunjung untuk memahami tentang sangiran dan fosil yang ditemukan. Bahkan kalo di klaster bukuran itu konsepnya futuristik lho, namun kita nggak bakal bahas klaster bukuran.
                                             Gambar isi dari Ruang pameran Indoor Museum Manyarejo
Ini nih, gambar diatas menunjukkan isi dari ruang pameran Indoor Museum Manyarejo, ketika sobat blogger memasuki ruangan ini yang siap-siap memanjakan telinga dengan alunan musik gamelan jawa ya, jangan takut tapi. Ruangannya cukup enak juga kok, ada ac yang lumayan dingin beda dengan udara di luar museum yang cenderung panas waktu admin berkunjung. Museum ini lebih kecil jika dibandingkan dengan museum yang lain. Disini terdapat Legenda Balung Buto nih, mulai dari apa itu Balung Buto hingga Legenda penciptaan beberapa nama desa di wilayah Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen lho, keren kan orang jaman dahulu kalo ngehubungin sesuatu dengan magis pasti di luar nalar orang sekarang.

Disini juga dipaparkan timeline dari awal penemuan hingga dibangunnya museum ini lho gaes keren kan!, dari situ nih baru diketahui bahwa masyarakat sekitar dengan peneliti itu ternyata memiliki hubungan yang harmonis lho. Makanya itu juga salah satu alasan kenapa museum Manyarejo ini dibangun agar mengenang hubungan keharmonisan antara masyarakat dan peneliti yang datang dari luar maupun dalam negeri.
Selain itu museum ini memiliki profil-profil peneliti dalam negeri, alat apa saja yang digunakan untuk ekskavasi, rekayasa tentang legenda balung buto juga ada disini lho. Ada kaos tentang legenda balung buto pula, bagi sobat blogger yang mau beli yuk mari kesini. Selanjutnya kita bakalan berkunjung ke Museum Sangiran Klaster Ngebung.

X : Ngebung? Apaan tuh? Yang buat dimasak bukan? Itu tuh bambu muda
Y : *Bawa Golok please, itu Rebung

Museum Sangiran Klaster Ngebung
                                                                Gambar Museum Ngebung dari depan
Museum ini diresmikan pada 19 Oktober 2014, ciri khas Museum ini terdapat patung gajah di depan museum, ketika sobat blogger masuk akan terlihat dari kejauhan replika arkeolog yang sedang melakukan ekskavasi bersama dengan masyarakat sekitar. Di samping kanan kirinya terdapat tulisan tentang Asal Muasal Museum Sangiran, dan dibelakangnya terdapat 4 buah monitor yang memutar video legenda tentang manusia purba dan dewa di seluruh dunia. Nah, dari sini nih dapat diketahui bahwa Museum yang ada di Sangiran telah diakui oleh UNESCO lho, jadi sebagai generasi pewaris kita patut bangga akan apa yang kita miliki.
Di Museum Ngebung ini terdapat 3 buah ruang pameran, tentunya selain replika ekskavasi tadi ya, langsung aja deh

Pada Ruang Pameran Satu terdapat foto arkeolog-arkeolog yang menyelidiki tentang manusia purba, artikel tentang teori The Missing Link nya Eugene Dubois, hingga replika manusia purba. Kebanyakan profil arkeolog berasal dari luar negeri, namun ada juga beberapa arkeolog pribumi, termasuk replika Raden Saleh, ternyata selain jago melukis beliau juga rajin mengumpulkan fosil.
                                           Gambar penduduk yang tengah meramu Balung Buto untuk obat
Di ruang pameran kedua disini mengkaji tentang Balung Buto, apa itu balung buto dan bagaimana masyarakat menyikapi balung buto ini, gambar diatas menunjukkan bahwa saat itu masyarakat menggunakan balung buto untuk obat, nah para pedagang obat china yang biasanya mengkoleksi fosil karena dianggap seperti fosil naga yang waktu it telah digunakan di Cina untuk berobat. Didepan replika masyarakat itu terdapat replika orang Cina yang sedang menjual obat. Di ruang pameran kedua ini juga terdapat hubungan antar peneliti dan jurnal tentang klaster ngebung.
                                           Gambar Artikel Kami : Pewaris Warisan Dunia
Lanjut ke ruang pameran ketiga nih, Di ruang akhir ini terdapat tulang stegodon yang belum lengkap. Stegodon tahu kan? Simbahnya gajah. Di ruang ini juga terdapat sebuah foto generasi sekarang sebagai generasi pewaris sangiran, kalo bukan kita yang menjaga sangiran siapa lagi? Sebelum keluar dari Museum Ngebung, coba deh sempetin nulis pesan dan kesan buat Museum Ngebung di monitor layar sentuh yang ada.

Pesan admin, mari kunjungi Museum sekitar Sangiran yang belum terekspos karena dengan kunjungan Sobat Blogger tempat ini akan lebih dikenal dan dikenang. Museum ini, mengkampanyekan indahnya harmonisasi hidup toleransi, menghargai sejarah, dan tanggung jawab kita sebagai generasi pewaris Sangiran. Sekian

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

Dokumentasi pribadi Admin

 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com