Pages

Social Icons

Beranda

Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts

Saturday, 15 April 2017

Museum Sekitar Sangiran dan Legenda Balung Buto yang Menyelimutinya

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog

Bagi masyarakat di sekitar lembah bengawan solo terutama di daerah sangiran, nama Balung Buto tidak asing di telinga mereka, balung buto memiliki arti tulang-tulang raksasa. pemahaman mereka terkait balung buto berkaitan dengan tradisi lisan mengenai perang besar yang pernah terjadi di kawasan perbukitan Sangiran, ribuan tahun silam. Dalam pertempuran itu banyak raksasa yang gugur dan terkubur di perbukitan Sangiran, sebagaimana “dibuktikan” lewat potongan-potongan tulang-belulang besar yang mereka namakan balung buto.

Sebelum kedatangan Koenigswald, balung buto dianggap memiliki kekuatan magis. Selain itu sebagai sarana penyembuhan berbagai penyakit, pelindung diri atau sebagai jimat, hingga membantu proses kelahiran. Maka, tidak heran bila pada kurun waktu sebelum 1930-an, balung buto banyak dicari oleh penduduk setempat. Hingga arkeolog mengubah pandangan itu.  

Setelah cerita diatas, pasti Sobat Blogger kepikiran tentang Museum Sangiran kan? nah tahukah sobat blogger bahwa Museum Sangiran itu tidak hanya di satu tempat? melainkan terdapat beberapa museum yang berada di wilayah Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, yaitu :
     a. Museum Sangiran Klaster Krikilan, yang merupakan museum terbesar dan yang paling terkenal
     b. Museum Sangiran Klaster Dayu
     c. Museum Sangiran Klaster Ngebung
     d. Museum Sangiran Klaster Manyarejo
     e. Museum Sangiran Klaster Bukuran
Dari kelima klaster yang ada admin bakal ngasih info 2 museum nih yaitu Museum Klaster Ngebung dan Museum Klaster Manyarejo, kira-kira... kenapa ya? Ada yang bisa jawab mungkin? YAP... dua museum inilah yang lebih membahas tentang apa itu Balung Buto!!! Selain itu, admin tertarik ke kedua Museum ini karena tingkat pengunjung masih rendah nih, padahal Sobat blogger disini kalo mau berkunjung nggak ditarik harga tiket lho alias gratisan. Paling cuma diminta buat bayar Rp. 2.000,00 buat bayar parkir disana.

Museum Sangiran Klaster Manyarejo

  Gambar peresmian Museum Sangiran Klaster Manyarejo
Diresmian pada tanggal 5 November 2014, memang museum-museum di klaster manyarejo, ngebung, dayu, dan bukuran dihitung masih muda karena memang museum ini didirikan karena untuk melengkapi museum sangiran klaster krikilan. Di museum Manyarejo ini, terdapat dua ruang pameran yaitu indoor dan outdoor di ruang outdoor terdapat display ekskavasi, yaitu penggalian fosil. Disini diperlihatkan bermacam tanah yang terdapat fosil di dalamnya.

Selanjutnya kita masuk ke ruang indoor, nah di indoor ini terdapat pameran beberapa fosil yang ada seperti replika tengkorak, kepala banteng, dan bola batu. Meskipun museum ini tentang manusia purba tapi jangan salah nih sobat blogger, kalo disini dan di semua museum sangiran itu dilengkapi dengan media elektronik yang dapat mempermudah pengunjung untuk memahami tentang sangiran dan fosil yang ditemukan. Bahkan kalo di klaster bukuran itu konsepnya futuristik lho, namun kita nggak bakal bahas klaster bukuran.
                                             Gambar isi dari Ruang pameran Indoor Museum Manyarejo
Ini nih, gambar diatas menunjukkan isi dari ruang pameran Indoor Museum Manyarejo, ketika sobat blogger memasuki ruangan ini yang siap-siap memanjakan telinga dengan alunan musik gamelan jawa ya, jangan takut tapi. Ruangannya cukup enak juga kok, ada ac yang lumayan dingin beda dengan udara di luar museum yang cenderung panas waktu admin berkunjung. Museum ini lebih kecil jika dibandingkan dengan museum yang lain. Disini terdapat Legenda Balung Buto nih, mulai dari apa itu Balung Buto hingga Legenda penciptaan beberapa nama desa di wilayah Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen lho, keren kan orang jaman dahulu kalo ngehubungin sesuatu dengan magis pasti di luar nalar orang sekarang.

Disini juga dipaparkan timeline dari awal penemuan hingga dibangunnya museum ini lho gaes keren kan!, dari situ nih baru diketahui bahwa masyarakat sekitar dengan peneliti itu ternyata memiliki hubungan yang harmonis lho. Makanya itu juga salah satu alasan kenapa museum Manyarejo ini dibangun agar mengenang hubungan keharmonisan antara masyarakat dan peneliti yang datang dari luar maupun dalam negeri.
Selain itu museum ini memiliki profil-profil peneliti dalam negeri, alat apa saja yang digunakan untuk ekskavasi, rekayasa tentang legenda balung buto juga ada disini lho. Ada kaos tentang legenda balung buto pula, bagi sobat blogger yang mau beli yuk mari kesini. Selanjutnya kita bakalan berkunjung ke Museum Sangiran Klaster Ngebung.

X : Ngebung? Apaan tuh? Yang buat dimasak bukan? Itu tuh bambu muda
Y : *Bawa Golok please, itu Rebung

Museum Sangiran Klaster Ngebung
                                                                Gambar Museum Ngebung dari depan
Museum ini diresmikan pada 19 Oktober 2014, ciri khas Museum ini terdapat patung gajah di depan museum, ketika sobat blogger masuk akan terlihat dari kejauhan replika arkeolog yang sedang melakukan ekskavasi bersama dengan masyarakat sekitar. Di samping kanan kirinya terdapat tulisan tentang Asal Muasal Museum Sangiran, dan dibelakangnya terdapat 4 buah monitor yang memutar video legenda tentang manusia purba dan dewa di seluruh dunia. Nah, dari sini nih dapat diketahui bahwa Museum yang ada di Sangiran telah diakui oleh UNESCO lho, jadi sebagai generasi pewaris kita patut bangga akan apa yang kita miliki.
Di Museum Ngebung ini terdapat 3 buah ruang pameran, tentunya selain replika ekskavasi tadi ya, langsung aja deh

Pada Ruang Pameran Satu terdapat foto arkeolog-arkeolog yang menyelidiki tentang manusia purba, artikel tentang teori The Missing Link nya Eugene Dubois, hingga replika manusia purba. Kebanyakan profil arkeolog berasal dari luar negeri, namun ada juga beberapa arkeolog pribumi, termasuk replika Raden Saleh, ternyata selain jago melukis beliau juga rajin mengumpulkan fosil.
                                           Gambar penduduk yang tengah meramu Balung Buto untuk obat
Di ruang pameran kedua disini mengkaji tentang Balung Buto, apa itu balung buto dan bagaimana masyarakat menyikapi balung buto ini, gambar diatas menunjukkan bahwa saat itu masyarakat menggunakan balung buto untuk obat, nah para pedagang obat china yang biasanya mengkoleksi fosil karena dianggap seperti fosil naga yang waktu it telah digunakan di Cina untuk berobat. Didepan replika masyarakat itu terdapat replika orang Cina yang sedang menjual obat. Di ruang pameran kedua ini juga terdapat hubungan antar peneliti dan jurnal tentang klaster ngebung.
                                           Gambar Artikel Kami : Pewaris Warisan Dunia
Lanjut ke ruang pameran ketiga nih, Di ruang akhir ini terdapat tulang stegodon yang belum lengkap. Stegodon tahu kan? Simbahnya gajah. Di ruang ini juga terdapat sebuah foto generasi sekarang sebagai generasi pewaris sangiran, kalo bukan kita yang menjaga sangiran siapa lagi? Sebelum keluar dari Museum Ngebung, coba deh sempetin nulis pesan dan kesan buat Museum Ngebung di monitor layar sentuh yang ada.

Pesan admin, mari kunjungi Museum sekitar Sangiran yang belum terekspos karena dengan kunjungan Sobat Blogger tempat ini akan lebih dikenal dan dikenang. Museum ini, mengkampanyekan indahnya harmonisasi hidup toleransi, menghargai sejarah, dan tanggung jawab kita sebagai generasi pewaris Sangiran. Sekian

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

Dokumentasi pribadi Admin

 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Wednesday, 3 July 2013

Cerita Rakyat Mengapa Beo selalu Menirukan Suara

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog

"Mengapa Beo Selalu Menirukan Suara

Dahulu kala, hewan-hewan di hutan bisa berbicara seperti manusia. Mereka bercakap, bekerja sambil bercakap, juga hidup rukun dan damai. Pada suatu hari Ibu Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba. 

Ia berkata, "Anak-anakku, Sang Pencipta telah menciptakan makhluk baru. Namanya manusia. Sang Pencipta memutuskan bahwa manusialah yang akan berbicara dengan bahasa kita. Dan kita diperintahkan untuk mencari bahasa dan suara baru untuk kita pakai mulai saat ini."

Pada mulanya para penghuni rimba terkejut. Namun mereka sadar bahwa tidak mungkin menolak kehendak Sang Pencipta.

"Ibu Peri Penjaga Hutan, kami tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Tapi sekarang kami belum bisa mencari bahasa baru untuk kami pakai. Berilah kami waktu," ujar Singa mewakili teman-temannya. 

"Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Kalian akan berkumpul lagi disini dan memberitahu padaku bahasa apa yang kalian pilih. Setelah itu, pakailah bahasa serta suara itu, dan lupakan bahasa manusia."

Maka pulanglah penduduk hutan ke tempat masing-masing. Mereka mulai berpikir keras untuk mencari suara yang gagah dan cocok untuk mereka masing-masing.

Begitulah, hari demi hari penduduk hutan sibuk bersuara. Mencari-cari suara yang akan mereka pakai selanjutnya. Singa yang telah dinobatkan sebagai raja hutan karena keberaniannya, lebih dahulu memilih suara mengaum.

"Aouuuuum," katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Penduduk hutan yang lain senang mendengarnya. Mereka merasa suara itu pas benar dengan bentuk tubuh singa yang gagah.

Tapi tidak semua hewan senang mendengarnya. Burung Beo yang usil malah menertawakan suara itu.

"Hahaha, mirip orang sakit gigi," cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak.

Singa sangat malu mendengarnya.

Begitulah, hari berganti hari, semuanya mencoba berbagai suara kecuali Beo. Ia sibuk mengejek suara-suara yang berhasil ditemukan.

"Hahaha, seperti suara pintu yang tidak diminyaki," ejek Beo kepada Jangkrik yang menemukan suara berderik.

"Hahaha, kudengar nenek-nenek tertawa," ejeknya kepada Kuda.

"Ban siapa yang bocor? Hahaha," ia menertawakan suara desis Ular.

Begitulah pekerjaan Beo setiap hari. Ia sibuk mengintip dan menertawakan penduduk hutan lainnya yang mencoba suara baru. Teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka malu dan langsung menghindar dari Beo. Tapi Beo selalu berhasil menemukan dan menirukan suara mereka.

"Mbeeeek," tirunya ketika melihat Kambing.

"Ngok-ngooook," tirunya ketika melihat Babi.

Tak terasa sudah satu minggu. Penduduk hutan harus berkumpul kembali untuk mengumumkan suara yang mereka pilih.
Ibu Peri Penjaga Hutan memanggil mereka satu per satu. Beo saja yang masih saja tertawa. Ia pikir teman-temannya bodoh, karena suara yang mereka temukan lucu-lucu.

Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju ke depan.

"Mbeeeek," jeritnya.

"Hei itu suaraku," kata Kambing.

Yang lain tertawa.

Beo tertegun. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya sehingga lupa untuk mencari suaranya sendiri.

"Muuu,…guk-guk,…meong," Beo panik. Ia menirukan saja suara yang pernah ia dengar. Tentu saja Sapi, Anjing, dan Kucing tertawa terbahak-bahak.

Beo sangat malu. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Ia minta maaf kepada teman-temannya.

Dengan tersenyum Ibu Peri Penjaga Hutan berkata, "Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara. Tapi sebagai pelajaran, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya."

Begitulah riwayatnya, mengapa burung beo selalu menirukan suara-suara.


 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat dalam Bahasa Jawa Kucing sing Pinter Ngalembana

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog

Kucing sing Pinter Ngalembana

Suwijining ndina Kucing sing endah banget wulune mlaku-mlaku ning ngomah. Dheweke weruh ana anak thekek lagi nggondol daging empal mbuh seka ngendi. Dadi dheweke dadi kepengin melu mangan, terus golek cara supaya bisa ngrebut daging empal kuwi. Kanthi modal wulune sing apik lan rupane sing menawan, Kucing rumangsa isa ngrebut empal saka anak thekek sing kurang pengalaman.
“Hai Thekek, awakmu iku kethok pengkuh, rosa banget, lan kulitmu kandel ora tipis kaya kulit cecak. Apa tho rahasiane?
Thekek bungah banget dialembana dening Kucing kang elok rupane. Nanging dheweke meneng wae amarga sumelang menawa mangsuli pitakone Kucing, empale bakalan tiba ning njobin.
Kucing ora kurang akal, banjur takon meneh
“Hai Thekek, kowe iso ora ngajari aku mlaku ning tembok. Kok ya ampuh tenan kowe ki iso mlaku ning tembok, sing ngajari sapa tho?
Thekek meneng wae, sakjane dheweke pingin ngejawab menawa isa mlaku ning tembok kuwi ora ana sing ngajari. Dheweke kuwi pinter dadi isa mlaku dhewe rasah diajari sapa-sapa.
Kucing nyoba ngalembana meneh marang si anak Thekek.
“Hai Thekek, suaramu kuwi tak akonipancen merdu tenan. Mbok kowe nyanyi sak lagu wae ben tambah kasengsem athiku marang sliramu"

Anak Thekek ora iso ngampet meneh, kepingin eksis. Dheweke mbukak cangkeme arep nyanyi. Mesthi wae empale tiba ning njobin. Untunge ana Mbokne Thekek sing nyaut empal sing tiba mau, banjur ngajak anak Thekek lunga ngedohi Kucing kang rupane mranani kuwi. Mbokne rumangsa dheweke kurang anggone ngajari anake supaya ora gampang klenthir nalika dialembana dening liyan (Undil - 2012)




 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Thursday, 27 June 2013

Cerita Rakyat Jawa Barat Sangkuriang dalam Bahasa Inggris

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog

Once, there was a kingdom in Priangan Land. Lived a happy family. They were a father in form of dog,his name is Tumang, a mother which was called is Dayang Sumbi, and a child which was called Sangkuriang.
One day, Dayang Sumbi asked her son to go hunting with his lovely dog, Tumang. After hunting all day, Sangkuriang began desperate and worried because he hunted no deer. Then he thought to shot his own dog. Then he took the dog liver and carried home.

Soon Dayang Sumbi found out that it was not deer lever but Tumang's, his own dog. So, She was very angry and hit Sangkuriang's head. In that incident, Sangkuriang got wounded and scar then cast away from their home.

Years go bye, Sangkuriang had travel many places and finally arrived at a village. He met a beautiful woman and felt in love with her. When they were discussing their wedding plans, The woman looked at the wound in Sangkuriang's head. It matched to her son's wound who had left severall years earlier. Soon she realized that she felt in love with her own son.

She couldn't marry him but how to say it. Then, she found the way. She needed a lake and a boat for celebrating their wedding day. Sangkuriang had to make them in one night. He built a lake. With a dawn just moment away and the boat was almost complete. Dayang Sumbi had to stop it. Then, she lit up the eastern horizon with flashes of light. It made the cock crowed for a new day.
Sangkuriang failed to marry her. She was very angry and kicked the boat. It felt over and became the mountain of Tangkuban Perahu Bandung.

 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat Ajisaka dalam Bahasa Indonesia

Terimakasih Atas Kunjungannya :-) 
Thanks For Visiting My Blog A

Legenda atau cerita rakyat yang ada dalam setiap suku, yang menceritakan asal usul terjadinya suatu peristiwa memang menarik untuk di ceritakan kembali kepada anak-anak kita. Begitu juga dengan legenda Aji Saka yang konon dialah yang menciptakan tulisan/huruf Jawa, Ha Na Ca Ra Ka.
Legenda ini berawal dari kedatangan Aji Saka bersama dua orang pengawalnya yang setia, Durga dan Sembada dari India ke tanah Jawa yang terkenal keindahannya bagai Swargaloka. Mereka singgah di salah satu kerajaan bernama Medang Kamulan.

Sebelum meneruskan pengembaraannya, Aji Saka memerintahkan Durga untuk tinggal dan menjaga kapal mereka serta menitipkan sebuah keris pusaka yang harus ia jaga dengan sepenuh hati seperti ia menjaga nyawanya sendiri, dan tidak boleh di serahkan kepada siapapun juga selain Aji Saka sendiri yang memintanya.
Aji Saka melanjutkan perjalanannya bersama Sambada menuju ke Medang Kamulan. Sesampai mereka di desa, Aji Saka dan Sambada heran melihat desa yang mereka singgahi begitu sepi. Penduduk bersembunyi dan menutup rapat pintu dan jendela rumah mereka seolah takut keberadaan mereka di ketahui.
Tak lama, Aji Saka berpapasan dengan seorang tua yang berjalan bersama seorang anak gadis dengan wajah muram dan sedih. Bertanyalah Aji Saka kenapa mereka bersedih. Bapak tua itu bercerita bahwa hari ini tibalah ia memberikan persembahan untuk sang prabu sebagai santapan. Medang Kamulan di perintah oleh seorang raja berujud setengah manusia dan setengah raksasa, dan dalam beberapa hari sekali, sang raja meminta daging manusia untuk santapannya.
Mendengar cerita ini, Aji Saka merasa iba dan bertekad menolong penduduk desa. Maka, berkatalah ia pada si Bapak tua, bahwa dia yang akan menggantikan anak gadisnya sebagai santapan sang Prabu Dewatacengkar.
Maka, berangkatlah Aji Saka dan Sembada menemui sang Prabu. Prabu Dewatacengkar begitu gembira menyambut kedatangan Aji Saka, apalagi setelah melihat bahwa santapannya kali ini masih muda. Prabu dewatacengkar telah membayangkan menyantap daging muda yang masih segar.
Namun, sebelum sang Prabu menyantapnya, Aji Saka mengajukan syarat. Apabila sang Prabu mampu menarik habis kain sorbannya (ikat kepala) maka, Aji Saka akan dengan rela menyerahkan nyawanya untuk di santap. Syarat ini di sanggupi sang Prabu. Rakyat berduyun-duyun datang ke kota raja untuk melihat hal ini. Ajaib sekali dengan kesaktiannya, kain ikat kepala Aji Saka tak habis meski Prabu Dewatacengkar telah menariknya sampai keluar dari daerah kekuasaanya.
Akhirnya, sampailah Prabu Dewatacengkar di pesisir pantai Selatan. Anehnya, sesampainya sang prabu di pesisir pantai, habis pulalah kain ikat kepala Aji Saka. Maka, dengan kesaktiannya di kibaskanlah kain ikat kepala itu yang membuat Prabu Dewatacengkar terpelanting dan jatuh ke dalam pantai Selatan. Sesaat setelah tubuh sang Prabu di telan ombak, muncullah seekor buaya putih raksasa. Ternyata, ujud sang Prabu telah berubah menjadi buaya putih raksasa.
Setelah itu, Aji Saka di angkat menjadi raja Medang Kamulan. Setelah beberapa waktu memerintah, teringatlah Aji Saka akan Durga pengawalnya yang lain. Maka di utuslah Sambada untuk menjemput Durga untuk tinggal bersama mereka di Medang Kamulan. Berangkatlah Sembada menjemput Durga.
Sesampainya di tempat terakhir mereka berpisah, Sembada meminta kembali keris pusaka Aji Saka dan mengabarkan bahwa Aji Saka kini telah menjadi raja Medang Kamulan dan mengajak serta dirinya untuk tinggal di sana. Namun, karena Durga teringat pesan Aji Saka untuk tidak menyerahkan keris pusaka kepada siapapun kecuali dirinya, Durga tidak menyerahkannya. Terjadilah salah paham di antara keduanya, dan pertarunganpun tak dapat di elakkan. Karena mereka sama-sama sakti, akhirnya merekapun gugur bersama.
Lama berselang tak lagi terdengar kabar baik dari Sembada maupun Durga, akhirnya Aji Saka memutuskan untuk menjemput mereka sendiri. Namun terkejutlah dia saat tiba di tempat pertama ia meninggalkan Durga, Aji Saka melihat ke dua abdi setianya telah tewas dan menjadi bangkai. Sedih dan menyesal akan kecerobohannya maka, Aji Saka menulis ha na ca ra ka pada sebuah daun lontar.
Inilah aksara Jawa yang terkenal itu:
ha na ca ra ka artinya : Ada utusan
da ta sa wa la artinta : Saling bertengkar
pa dha ja ya nya artinya : Sama saktinya
ma ga ba tha nga artinya : Gugur bersama

LWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat dalam Bahasa Jawa Ajisaka

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog

AJISAKA

Kacarita ing jaman mbiyèn ana wong saka Tanah Hindhustan anom jenengé Aji Saka. Dhèwèké putrané ratu, nanging kepéngin dadi pandhita sing pinter. Kasenengané mulang kawruh rupa-rupa. Dhèwèké banjur péngin lunga mencaraké ngèlmu kawruh ing Tanah Jawa.
Banjur anuju sawijining dina Aji Saka sida mangkat menyang Tanah Jawa, karo abdiné loro sing jenengé Dora lan Sambada. Bareng teka ing Pulo Majethi padha lèrèn. Aji Saka banjur nilar abdiné loro; Dora lan Sambada ing pulo iku. Déné Aji Saka karo Sembada arep njajah Tanah Jawa dhisik. Dora diweling ora olèh lunga saka kono. Saliyané iku Dora wau dipasrahi keris pusakané, didhawuhi ngreksa, ora olèh dielungaké marang sapa-sapa. Aji Saka banjur tindak karo abdiné, Sembada menyang ing Tanah Jawa. Njujug ing negara Mendhang Kamolan. Sing jumeneng ratu ing kono ajejuluk Prabu Déwata Cengkar. Sang prabu iku senengané dhahar dagingé wong. Kawulané akèh sing padha wedi banjur padha ngalih menyang negara liya. Patihé diarani Kyai Tengger.

Kacarita Aji Saka ana ing Mendhang Kamolan jumeneng guru, wong-wong padha mlebu dadi siswané. Para siswané padha tresna marang Aji Saka amarga dhèwèké seneng tetulung.
Nalika semana Aji Saka mondhok nèng omahé nyai randha Sengkeran dipèk anak karo nyai randha. Kyai patih karo nyai randha iya wis dadi siswané Aji Saka. Anuju sawijining dina sang prabu Déwata Cengkar duka banget ora wong manèh sing bisa didhahar. Aji Saka banjur saguh dicaosaké sang nata dadi dhaharané. Sang nyai randha lan patih dadi kagèt banget. Nanging Aji Saka celathu yèn wong loro iku ora usah kuwatir yèn dhèwèké ora bakal mati. Banjur Aji Saka diateraké ngadhep prabu Déwata Cengkar.
Prabu Déwata Cengkar ya rumangsa éman lan kersa ngangkat Aji Saka dadi priyayi, nanging Aji Saka ora gelem. Ana siji panyuwuné, yaiku nyuwun lemah saiket jembaré. Sing ngukur kudu sang prabu dhéwé.
           
            Sang Prabu Déwata Cengkar iya banjur nglilani. Nuli wiwit ngukur lemah diasta dhéwé. Iketé Aji Saka dijèrèng. Iketé tansah mulur baé, dadi amba serta dawa. Iya dituti waé déning sang prabu. Nganti notog ing segara kidul. Bareng wis mèpèd ing pinggir segara, iketé dikebutaké. Déwata Cengkar katut mlesat kecemplung ing segara. Malih dadi baya putih, ngratoni saisining segara kidul.
           
            Sakbubare kuwi, Ajisaka diangkat dadi Raja Medang Komulan. Ajisaka eling marang Dora lan meling Sembada supaya marani lan ngajak Dora urip bareng ing Medang Komulan. Sembada banjur mangkat marani Dora. Saktekane ing panggonane Dora, Sembada njaluk kerise Ajisaka lan ngabari yen Ajisaka wis dadi Raja Medang Komulan lan ngajak urip bareng ing kono. Nanging , Dora eling marang dawuhe Ajisaka supaya kerise ora oleh dielungke marang sapa-sapa. Sidane, antarane wong loro kuwi dumadi salah paham lan pada padu. Amarga pada sektine, wong loro mau mati bareng.

            Pirang-pirang minggu urung entuk kabar, Ajisaka sidane mapak loro abdine mau. Nanging, saktekane ing panggonane Dora, Ajisaka kaget amarga reti loro abdine uwis dadi bangkai. Susah lan nyesel amarga tumindake kang kurang ati-ati, Ajisaka banjur nulis tulisan ing godhong lontar. Kang teka saiki dikenal kanthi Aksara Jawa.­

Unsur Instrinsik
-Tema                 :

-Tokoh lan watak :
1.     Ajisaka              : Satriya, kendel, pinter, kurang ngati-ati.
2.     Dora                 : Manut marang dawuh, setia.
3.     Sembada           : Manut marang dawuh, setia.
4.     Dewatacengkar  : Angkara murka.

-Alur                 : alur maju

-Amanat            : Tumindak-tumindak kang ala bakal kalah saka tumindak kang becik.
                           Kudu jelas lan ngati-ati ing tumindak lan menehi dawuh marang wong liya supaya ora
                           gawe nyesel.



Nama    : Ridwan Ahmad S.P.
Nomor  : 31
Kelas     : X.1
 

 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Sunday, 12 May 2013

Cerita Rakyat Jawa tengah Lutung Kasarung dalam bahasa inggris

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog



LUTUNG KASARUNG

Long time ago, there was a king named Prabu Tapa Agung. Prabu Tapa Agung was an old king. He had two daughters, Purbararang and Purbasari. Prabu Tapa Agung planned to retire as a king. He wanted Purbasari to replace him as the leader of the kingdom.
Hearing this, Purbararang was angry. "You cannot ask her to be the queen, Father. I'm older than she is. It's supposed to be me, not her!" said Purbararang. But the king still chose Purbasari to be the next queen. Purbararang then set a bad plan with her fiance, Indrajaya. Together they went to a witch and asked her to put a spell on Purbasari. Later, Purbasari had bad skin. There were black dots all over her body. "You are not as beautiful as I am. You cannot be the queen. Instead, you have to leave this palace and stay in a jungle," said Purbararang. Purbasari was very sad. Now she had to stay in the jungle. Everyday she spent her time playing with some animals there.
There was one monkey that always tried to cheer her up. It was not just an ordinary monkey, he had magical power. And he also could talk with humans. The monkey's name was Lutung Kasarung. He was actually a god. His name was Sanghyang Gurumina.
Lutung Kasarung planned to help Purbasari. He made a small lake and asked her to take a bath there. Amazingly, her bad skin was cured. Now she got her beautiful skin back. After that, she asked Lutung Kasarung to accompany her to go back to the palace.
Purbararang was very shocked. She knew she had to come up with another bad idea. She then said, "Those who have longer hair will be the queen." The king then measured his daughters' hair. Purbasari had longer hair. But Purbararang did not give up. "A queen must have a handsome husband. If my fiance is more handsome than yours, then I will be the queen," said Purbararang.
Purbasari was sad. She knew Purbararang's fiance, Indrajaya, was handsome. And she did not have a fiance yet. "Here is my fiancé, Indrajaya. Where is yours?" asked Purbararang. Lutung Kasarung came forward. "What ?? Your fiance is a monkey ??" Purbararang was laughing very hard. Suddenly, Lutung Kasarung changed into a very a handsome man. He was even more handsome than Indrajaya.

Purbasari then became the queen. She forgave Purbararang and her fiance and let them stay in the palace.


 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat alin Kundang dalam bahasa inggris

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog


Malin Kundang

A long time ago, there was a widow with her only son. They lived in a hut, in a village near the sea. They were very poor.
Malin Kundang is the son’s name, thought, “if i stay here, i won’t have a better life. I have to leave this village and look for a job.”
His mother was sad to hear that. But she knew that Malin Kundang was right. So she let him go.
After her son had left, Malin Kundang’s mother went to the beach every day and prayed for her son safety. She hoped her son would return soon.
One morning, a beautiful big ship docked. There were Malin Kundang and his wife. Malin Kundang’s mother cried joyfully. “oh Malin Kundang my son! You are home!” she hugged the young man
Malin kundang did not believe her. He said, “She can’t be my mother! She was a strong woman when i left her.”
But his wife said angrily, “Why didn’t you tell me that your mother is poor and old?” then she spitted on the old woman.
The old woman cried. She could not believe what she heard. “Malin i’m your mother.” But Malin Kundang did not listen. He was embrassed to have an old mother. So he kick the old woman and yelled at her, “Go away ugly woman. My mother does not look like you at all.”
The old woman fell on the ground. She cried. Then she prayed, “My dear God, if he is really my son, so, punish him.”
After she yelled, there was a thunderstrom, it crashed the shore and destroyed everything.The villagers saw rocks that looked like a man. People believed that was, Malin Kundang he changed into coral reef. God had punished him.


Name    : Sajarotin Mubarok
Class      : x-5
No          : 31


 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat Legenda Roro Jonggrang ( The Legend of Roro Jonggrang) dalam bahasa inggrsi

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog


The Legend of Roro Jonggrang

Once upon a time, there was a young and powerful man named Bandung Bondowoso. One day he wanted to marry a beautiful princess named Roro Jonggrang. However, she did not love Bondowoso and did not have the heart to refuse him. After thinking hard, the daughter of King Boko found a way to refuse Bondowoso, whose magical power was well-known all over the region. Roro Jonggrang demanded something which she believed Bondowoso could not fulfill, as a condition to marry her.
      Jonggrang demanded Bondowoso to build 1,000 temples in one night before the dawn breaks. and the work must be completed before the rooster crowed. With the help of genies and his magical powers, Bondowoso completed 999 temples. Since she was panicing, Jonggrang sought the help of women and told them to start pounding rice so the rooster quickly got up and in a second, it crowed. Bondowoso was disappointed to see this. He was very mad. When he found out that it was the work of Roro Jonggrang, he came to her and turned her into a stone, making her as his 1000th temple.
     This is the legend of Roro Jonggrang or Prambanan temple, which is the largest Hindu temple in Southeast Asia. This temple is 47 meters high. Historically, Roro Jonggrang or Prambanan temple was built in the 10th century during the Wangsa Sanjaya era. It was built to respect the Trinity, namely Sive the Destroyer, Vishnu the Sustainer and Brahma the Creator.
    After hundreds of years of being forgotten, Prambanan temple was eventually found by CA Lons, a Dutchman, in 1733. Since then, this temple has been revitalized.
    Reliefs inside the Temple show the epic story of Ramayana. Inside, there are historical items such as the Lingga Batara Siwa stone, a symbol of fertility.



 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat Cindelaras dalam bahasa Inggris & Bahasa Indonesia

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog


Cindelaras


RADEN Putra was the king of Jenggala kingdom. He had a beautiful queen. Besides that, the king also had a beautiful concubine. Unlike the queen, the concubine had bad personalities. She was jealous with the queen, so she planned to make the queen leave the palace. By doing so, she could be the new queen. The concubine asked the palace healer to help her do the bad plan. They told the king that the queen wanted to poison him. The king was angry. He sent the queen to a jungle. It is the punishment for her. There was one condition that the king did not know, the queen waspregnant. After several months lived in the jungle, the queen gave birth to a healthy baby boy. She named him Cindelaras. He grew up as a nice, healthy, and handsome young man. One day, while Cindelaras helped her mother to collect some fire woods, an eagle dropped an egg. He took the egg and carefully took care of it. The egg hatched into a chick and then it became a strong rooster. The rooster had a magical skill. It was very powerful and skilful in fighting with other roosters. Besides that, the rooster could also sing. The song was about Cindelaras and his father, Raden Putra. “My master is Cindelaras. He lives in the jungle. His father is a king. His name is Raden Putra.” The rooster often sang the song. When Cindelaras first heard that song, he ignored it. However, he could not stand it anymore. He talked to his mother about it. His mother told him the whole story. Cindelaras was very surprised. He decided to go to the palace to meet the king, his father. Cindelaras also brought his rooster to go to the palace. On the way to go there, he met some people. They asked him to fight his rooster with their roosters. Cindelaras’ rooster won the fight. He won again and again. Cindelaras great rooster was heard by King Raden Putra. So, he invited Cindelaras to the palace to fight his rooster with the king’s rooster. The king made a bet. If Cindelaras’ rooster won the fight, he would get all king’s jewellery. However, if Cindelaras’s rooster lost, he would be punished in a jail. The two roosters fought bravely. In just few minutes, Cindelaras’ rooster won the fight! Then, the rooster sang the song. The king was surprised, he asked who Cindelaras was. He then told the king about her mother living in the jungle. Later, the palace healer admitted his mistake. He said that the queen was innocent. She never tried to kill the king. The king was very angry. He ordered the concubine to be sent to jail. The king immediately went to the jungle to pick up his wife. He apologized for sending her to the jungle and made her the queen again. ***



cindelaras



Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Dia memiliki seorang ratu yang cantik. Selain itu, raja juga memiliki selir yang cantik. Tidak seperti ratu, selir memiliki kepribadian buruk. Dia cemburu dengan sang ratu, jadi dia berencana untuk membuat ratu meninggalkan istana. Dengan demikian, dia bisa menjadi ratu yang baru. Selir bertanya penyembuh istana untuk membantunya melakukan rencana yang buruk. Mereka mengatakan kepada raja bahwa ratu ingin meracuninya. Raja marah. Dia mengirim ratu untuk hutan. Ini adalah hukuman baginya. Ada satu kondisi yang raja tidak tahu, waspregnant ratu. Setelah beberapa bulan tinggal di hutan, Ratu melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Dia menamainya Cindelaras. Dia tumbuh sebagai seorang pria, baik muda yang sehat, dan tampan. Suatu hari, saat Cindelaras membantu ibunya untuk mengumpulkan beberapa hutan kebakaran, elang menjatuhkan telur. Dia mengambil telur dan hati-hati merawatnya. Telur menetas menjadi anak ayam dan kemudian itu menjadi ayam jantan yang kuat. Ayam memiliki keterampilan magis. Itu sangat kuat dan terampil dalam pertempuran dengan ayam jantan lainnya. Selain itu, ayam jantan juga bisa menyanyi. Lagu itu tentang Cindelaras dan ayahnya, Raden Putra. "Tuan saya Cindelaras. Dia tinggal di hutan. Ayahnya adalah seorang raja. Namanya Raden Putra "ayam sering menyanyikan lagu tersebut.. Ketika pertama kali mendengar lagu Cindelaras itu, ia mengabaikannya. Namun, ia tidak bisa tahan lagi. Dia berbicara dengan ibunya tentang hal itu. Ibunya menceritakan keseluruhan cerita. Cindelaras sangat terkejut. Dia memutuskan untuk pergi ke istana untuk bertemu raja, ayahnya. Cindelaras juga membawa ayam jantan untuk pergi ke istana. Dalam perjalanan pergi ke sana, ia bertemu dengan beberapa orang. Mereka meminta dia untuk melawan ayam dengan ayam jantan mereka. Ayam Cindelaras 'memenangkan pertarungan. Dia menang lagi dan lagi. Cindelaras ayam jantan besar itu didengar oleh Raja Raden Putra. Jadi, ia mengundang Cindelaras ke istana untuk melawan ayam jantan dengan ayam raja. Raja membuat taruhan. Jika ayam jantan Cindelaras 'memenangkan pertarungan, dia akan mendapatkan semua perhiasan raja. Namun, jika ayam Cindelaras hilang, dia akan dihukum di penjara. Kedua ayam jantan bertempur dengan gagah berani. Hanya dalam beberapa menit, ayam Cindelaras 'memenangkan pertarungan! Kemudian, ayam jago menyanyikan lagu. Raja terkejut, dia bertanya siapa Cindelaras itu. Dia kemudian menceritakan kepada raja tentang hidup ibunya di hutan. Kemudian, penyembuh istana mengakui kesalahannya. Dia mengatakan bahwa sang ratu tidak bersalah. Dia tidak pernah mencoba untuk membunuh raja. Raja sangat marah. Dia memerintahkan selir yang akan dikirim ke penjara. Raja segera pergi ke hutan untuk mengambil istrinya. Dia meminta maaf untuk mengirimkan dirinya ke hutan dan membuatnya ratu lagi. ***




 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Wednesday, 1 May 2013

Cerita Rakyat Jawa Tengah Timun Mas dalam Bahasa Inggris

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog


Timun Emas

Long time ago, lived an old women named Mbok Sirni. She lived by herself because her husband had long passed away and she had no children. Every day, she prayed so God would give her a child. One night, when she was praying, a giant passed her house and heard her pray. “I can give you a child on one condition,” the giant said to Mbok Sirni, “You must give the child back to me when it is six years old.” Mbok Sirni was so happy; she did not think about the risk of losing the child later and agreed to take the giant’s offer. The giant then gave her a bunch of cucumber seeds. “Plant it around your house.” The giant then left without saying anything else. In the morning, Mbok Sirni planted the seeds. The seeds grew within mere days, and blossomed plentifully.Not longer after that, a big golden cucumber grew from plants. Carefully, Mbok Sirni plucked the golden cucumber and carried it home. With caution and care, she sliced the cucumber. She was very surprised to see a beautiful baby girl inside the cucumber. She then named the baby Timun Emas (it means Golden Cucumber).
Years passed by and Timun Emas has grew to become a lovely and beautiful little girl. She was also smart and kind. Mbok Sirni loved her very much. But she kept thinking about the time the giant would take Timun Emas away from her. One night, Mbok Sirni had a dream. In order to save Timun Emas from the giant, she had to meet the holy man who lived in Mount Gundul. The next morning, Mbok Sirni took leave of Timun Emas to go to Mount Gundul. The holy man then gave her four little bags, each one containing cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. “Timun Emas can use these to protect herself,” said the holy man to Mbok Sirni.
A few days later, the giant came to see Mbok Sirni about her promise. “Mbok Sirni! Where is Timun Emas?” shouted the giant. "My daughter, take these bag with you. It can save you from the giant. Now, run through the back door," said Mbok Sirni. But the giant saw Timun Emas running to the woods. The giant was angry. Starved and enraged, he rushed toward Timun Emas. Mbok Sirni tried to stop him, but the giant was unstoppable.
The giant was getting closer and closer, so Timun Emas opened the first bag she got from Mbok Sirni. Inside the bag were cucumber seeds. She threw the seeds, and instantly they grew into large cucumber field. But the giant ate them all, giving him more strength. As the giant was getting close, Timun Emas took the second bag with needles inside and spilled the content behind her. The needles turned into bamboo trees, sharp and thorny. The giant’s body was scratched and bled. “Aaargh, I’ll get you, Timun Emas!” shouted the giant as he tried to get himself out from the bamboo field. He made it and still chasing Timun Emas.
Timun Emas then reached the third bag and spilled the salt inside. The ground which the salt touched turned into a deep sea. The giant almost drown and had to swim to cross the sea. After some time, he managed to get out from the water. Timun Emas saw the giant coming, so she reached for the last bag. She took the shrimp paste and threw it. The shrimp paste became a big swamp of boiling mud. The giant was trapped in the middle of the swamp. The mud slowly but surely drowned him. Helpless, he roared out, “Help! Heeeeelp…!” Then the giant drown and died. Timun Mas then immediately went home. Since then, Timun Emas and Mbok Sirni live happily ever after.

Name    : Anjar Pratiwi (02 / X.5)


 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Saturday, 20 April 2013

Cerita Rakyat Jawa Tengah Timun Mas dalam Bahasa Jawa

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog


Nama:Sofiyan trianggoro
No:
Kelas:VIII E

                                             Timun Mas

Dek jaman biyen ing salah sawijining desa, ana mbok randa sing urip dewe ora ana anak utawa sedululur. Amarga urip dewe mbok randa mau kepengin duwe anak. Saben dina mbok randa ndonga awan bengi ing ngarsane Gusti Allah supaya diwenehi anak. Deweke yakin menawa penjaluke bakal di kabulake dening Gusti Allah.
Tanpa sangertine mbok randa, anggone donga awan bengi ing omahe kuwi mau keprungu Buto ijo sing kebeneran liwat sacedhake kono. Buto ijo banjur nyeluk mbok randa supaya metu saka omahe. mbok randa kaget ngerteni ana Buto ijoing ngarep omahe.
Sawise ora miris maneh ngerteni Buto ijo sing gedhe tur medeni kuwi, si Buto ijongomong menawa bisa nulungi menehi anak. Mbok randa bungah atine krungu kandane Buto ijo kuwi mau lan nyaguhi kabeh penjaluke Buto ijomenawa diwenehi anak tenan.
Penjaluke Buto ijo yaiku menawa anake mbok randa wis gedhe dijaluk arep dipangan. Sabanjure Buto ijo iku menehi wii timun sing kudu di tandur mbok randa. Sawise Buto ijo kuwi mau lunga, mbok Randa nandur wiji timun iku ana kebone. Wiji kuwi dirumat lan diopeni kanthi gemathi, disiram, diresiki sukete lan dirabuk supaya cepet tukul.
Sawise tukul lan dadi wit timun kang subur, wit timun iku mau wis pada uwoh. Ing antarane akehe woh timun, ana salah sijine timun kang nganeh-anehi. Rupane kuning emas lan gedhene sak guling. Timun iku banjur pecah lan ing njero timun mau ana bayi manungsane.
Mbok randa bungah atine amarga penjaluke kepengin duwe anak wis kaleksanan. Mbok randa ngucapake syukur marang Gusti Allah amarga dongane wis diijabah. Bayi iku mau wadon, pakulitane resik alus kaya kulit timun amarga laer saka timun sing kuning kaya emas, bayi wadon kuwi mau dijenengake Timun mas.
Sawise Timun mas ngancik dewasa, mbok randa kelingan janjine karo Buta menawa arep menehake Timun mas. Mbok randa dadi susah atine, rina wengi mbok randa donga supaya entuk pitulungan saka Gusti Allah. Salah sawijining wengi, mbok randa ngimpi ketemu pertapa ing gunung gandul. Pertapa kuwi mau sing bisa nulungi supaya Timun mas ora dijupuk sang Buto.
Esuke mbok randa lungo menyang gunung gandul kaya impene. Sawise ketemu karo pertapa kaya ing impene, mbok randa disangoni buntelan kanggo Timun mas. Pertapa kuwi mau menehi pitutur piye carane supaya Timun mas bisa oncat saka bebaya ngadepi sang Buto. Sawise ngucapake maturnuwun mbok randa pamitan mulih.
Tekan omah mbok randa menehi buntelan kang cacahe papat, lan dituturi piye carane nggunake. Mbok randa ngonggkon Timun mas lungo saka omah lan mlayu sak cepet-cepete. Sawise iku Buto ijo kang arep jupuk Timun mas teka ing omahe mbok randa banjur nesu ngerteni Timun mas wis ora ana. Buto ijo nesu lan ngamuk, kebonne mbok randa dirusak banjur bengok-bengok ngoyak Timun mas.
Amarga Buto ijo jangkahe amba sedela wae Timun mas wis meh kasil koyak. Timun mas bajur nguncalake buntelan sing isine wiji timun. Dumadakan dadi kebon timun kang akeh woh timune, Buto ijo mandeg lan mangan timun sing katon seger-seger kuwi mau. Sawise timune entek sang Buto ijo kelingan menawa ngoyak Timun mas. Buto ijo banjur ngoyak Timun mas maneh sing wis mlayu tekan adoh.
Lagi sedela wae sang Buto ijo wis meh kasil ngoyak Timun mas. Buntelan sing isi dom terus diuncalake Timun mas. Dumadakan dadi alas pring sing ngalangi playune Buto. Tapi sedela wae Buto ijo kasil bisa metu saka alas pring kuwi mau.
Timun mas banjur nguncalke buntelan kang isine uyah, lan malih dadi segara kang amba lan jero. Buto ijo nglangi ing segara kuwi mau tetep ngoyak Timun mas lan kasil mentas saka segara. Timun mas arep kasil koyak meneh, banjur nguncalake buntelan  kang pungkasan.
Buntelan kang isine trasi malih dadi segara lendhut kang jero. Buto ijokecemplung lan kangelan mentas saka lendhut kuwi mau. Pungkasane Buto ijo kang ngoyak Timun mas iku mati kleleb ing njero segara lendhut. Timun mas akhire selamet lan urip tentrem karo mbok randa.




 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Monday, 25 March 2013

Cerita Rakyat Lombok : Harimau dan Kerbau

Terimakasih Atas Kunjungannya :-)
Thanks For Visiting My Blog



Sumber :  Kakak Koko
Cerita Rakyat Lombok

Dahulu kala, di suatu padang kering dan tandus hiduplah seekor kerbau kurus. Karena hampir tiap hari tak mendapatkan rumput, maka kerbau itu pergi ke padang yang lain. Sampailah dia ke padang dimana banyak rumputnya. Hatinya gembira melihat rumput hijau itu.
“Nah, inilah makananku,” gumamnya sendiri dan tersenyum.
Tapi tiba-tiba muncullah seekor harimau besar menghadangnya. Lalu dia berkata, “O, tidak mudah kau ambil makan di sini kecuali sudah mendapat ijinku.”
“Kalau begitu ijinkanlah aku memakannya,” pinta kerbau.
“Silakan, asal kau mau memberikan sesuatu padaku,” jawab harimau. “Sebab setiap siapa datang kemari untuk makan rumput pasti berjanji akan memberikan sesuatu untukku. Bagaimana kalau kau besok memberikan hatimu kepadaku?”
Kerbau berpikir sejenak.
“Biarlah akan kuberikan padamu,” akhirnya kerbau berjanji akan memberikan hatinya kepada harimau.
Beberapa hari kemudian harimau menemui kerbau, tapi si kerbau sudah mengerti maksud kedatangan harimau.
“Bagaimana janjimu, kerbau?” tanya harimau,
“Kau terlalu cepat menagih janjimu,” jawab kerbau. “Sabarlah besok kalau badanku sudah gemuk.”
Selang beberapa bulan kemudian badan kerbau memang sudah nampak gemuk. Karena itulah, maka harimau ingin segera kerbau memenuhi janjinya. Tapi si kerbau tak mau menyerahkan hatinya. Dia ingin mempertahankannya. “Kenapa aku harus menyerahkan satu-satunya hatiku? Padahal hanya karena aku makan rumput di sini. Bukankah rumput ini juga milikku?” pikirnya.
Mendengar geram harimau, kerbau siap melawannya. Dan memang terjadilah pertarungan sengit antara dua binatang itu. Lama juga pertarungan yang nampak saling serang menyerang itu. Tapi akhirnya kerbau tak kuat menahan serangan harimau. Dia lari. Tapi harimau terus mengejarnya.
Di tengah perjalanan kerbau berjumpa dengan kuda.
“Ada apa kau lari terengah-engah?” tanya kuda terheran-heran.
“Aku dikejar harimau. Hendak membunuhku,” jawab kerbau tersengal-sengal.
“Jangan kuatir! Bersembunyilah di balik badanku!” suruh kuda.
Ketika harimau datang terjadilah perkelahian antara harimau dan kuda. Mereka saling dorong mendorong. Saling memagut. Saling ingin merobohkan. Tapi akhirnya kuda pun terpaksa mengakui keperkasaan si raja hutan.
Kuda dan kerbau terpaksa lari menemui banteng.
“Tolong kawan, kami akan dibunuh harimau. Dia mengejarku sekarang. Tolonglah …” kata kuda gelisah.
“Baiklah. Jika harimau ingin membunuhmu, biarlah dia membunuh si banteng perkasa ini lebih dulu,” ujar banteng bangga. “Mana dia sekarang?”
Belum lagi kuda dan kerbau menjawab, harimau telah melompat dan menerkam banteng. Dia menerjangnya sekuat tenaga. Terjadilah pertarungan sengit. Tapi akhirnya bantengpun terpaksa menyerah kalah. Mereka bertiga lari tunggang langgang. Sedangkan harimau terus mengejarnya, seolah belum puas bila belum memakan ketiga binatang itu.
Sampailah mereka di sebuah padang rumput dimana terdapat sebuah sumur tua. Mereka bertemu dengan kambing dan memberitahukan kalau mereka dalam keadaan bahaya, hendak dibunuh harimau. Dan tanpa banyak kata kambing segera bersiap membantunya. Dia mengoleskan buah kaktus hingga badannya merah.
Tiba-tiba harimau datang dengan geramnya.
“Kamu lihat kerbau dan kawan-kawannya?” tanya harimau garang.
“Ya, kenapa?” jawab kambing.
“Mereka hendak kubunuh.”
“Mereka telah kubunuh semua, karena menggangguku. Kau pun akan kubunuh jika menggangguku. Lihatlah badanku sampai merah begini. Ketiga binatang itu telah kubinasakan.”
“Dimana mereka sekarang ?” kejar harimau belum puas.
“Kalau kau ingin melihat mereka, tengoklah sumur itu!”
Harimau heran. Lalu dia melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Tapi belum lagi dia melihat isi sumur, banteng mendorongnya dari belakang hingga harimau terjerembab ke dalam sumur tua itu. Matilah harimau. ***


 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Saturday, 2 March 2013

Dongeng : Kera Yang Licik dan Kejam

Terimakasih Atas Kunjungannya :-) 
Thanks For Visiting My Blog 


Kera Yang Licik dan Kejam


Kera sangat senang hidup bersama ketam, karena ketam sangat menurut kepadanya. Ketam mudah sekali ditipunya. Selain itu ketam tidak berani rnelawannya.
Pada suatu ketika mereka berdua bersama-sama mencari makan. Kera mendapatkan biji buah jambu. Sedangkan ketam mendapatkan sepotong kue, sisa makanan seorang pemburu.
“Sahahatku ketam, kue itu hanya sekali saja kau dapat. Setelah kau makan, maka habislah kuemu,” kata kera sambil melirikkan matanya kearah kue yang dipegang ketam.
“Tapi biji jambu ini bisa ditanam dan akan berbuah hanyak. Habis kita petik tidak lama kemudian akan berbuah lagi. Begitulah seterusnya. Bagaimana kalau kita bertukaran saja, sahabat ?”

Karena bujukan itu, ketam merasa tergiur yang akhirnya kuenya ditukarkannya dengan biji jambu milik kera.
“Lalu biji ini ditanam di rumahku ?”
“Ya, ya, “jawab kera sambil mengunyah kue itu.
Betullah, tidak lama kemudian biji jambu itu tumbuh dengan suburnya. Ketam rajin sekali menyirami pohon jambunya. Dan pada saatnya pohon jambu itu berbuah dengan lebatnya.
Melihat buah yang lebat itu kera menjadi iri. Karena itulah maka ketam dibunuhnya. Dia dibanting pada sebuah batu yang sangat keras sehingga tubuhnya berkeping-keping menjadi ratusan ketam kecil-kecil.
Bukan main senang hati kera. Dia bisa memetik buah jambu itu sepuas dan sebanyak mungkin.
“Abang kera, berilah kami buah jambu itu,” kata seekor ketam.
“Secuilpun kalian tak akan kuberi,” kata kera sambil memakan buah jambu itu dengan rakusnya.
Ketam-ketam itu sakit hatinya. Kemudian merekabermusyawarah bersama. Diputuskannyalah untuk menghukum kera.
Berbarislah mereka menuju ke rumah kera. Lebah melihat barisan mereka, dan menanyakan akan kemanakah mereka itu. Mereka menjawab, “Kami akan menghukum kera,” jawab mereka. Kemudian mereka memberi sepotong kue kepada lebah. Lebahpun ikut mereka.
Tidak lama kemudian siput juga melihat barisan ketam itu dan menanyakan akan kemanakah mereka itu. Mereka menjawab, “Kami akan menghukum kera,” jawab mereka. Kemudian sepotong roti diberikan kepada siput. Dan siputpun ikut dalam barisan itu.
Ketika akan sampai di rumah kera, mereka bertemu dengan ular. Ular menanyakan kepada mereka mau kemanakah mereka. Ketam-ketam itu menjawab, “Kami akan menghukum kera.” Ularpun menerima sepotong kue dari mereka. Ularpun berbaur dengan mereka itu.
Ketika sampai di rumah kera, mereka tidak menjumpainya. Maka bersembunyilah lebah dibalik dipan kera. Siput mengambil tempat persembunyiannya di balik tungku yang berapi. Sedang ular bersembunyi dibawah ember. Semua ketam bersembunyi ditempat yang terlindung dari pandangan kera, kalau kera nanti pulang.
Kera masuk rumahnya. Karena kedinginan. Kera menuju tungku perapian. Nah, disana siput mendorong tungku berapi itu. Sehingga kera terbakar. Larilah kera menuju ember berisi air. Tapi di sana ular telah menunggunya. Kaki kera terpelilit oleh tubuh ular. Disusul dengan kedatangan lebah yang menyengat mata kera. Kera berteriak keras kesakitan. Kemudian Ketam-ketam keluar dari persembunyiannya untuk memberi pelajaran kepada kera yang telah berbuat kejam kepada induk mereka. ***




 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com

Cerita Rakyat Lombok, NTB Harimau dan Kerbau

Terimakasih Atas Kunjungannya :-) 
Thanks For Visiting My Blog 


Harimau dan Kerbau

Cerita Rakyat Lombok

Dahulu kala, di suatu padang kering dan tandus hiduplah seekor kerbau kurus. Karena hampir tiap hari tak mendapatkan rumput, maka kerbau itu pergi ke padang yang lain. Sampailah dia ke padang dimana banyak rumputnya. Hatinya gembira melihat rumput hijau itu.
“Nah, inilah makananku,” gumamnya sendiri dan tersenyum.
Tapi tiba-tiba muncullah seekor harimau besar menghadangnya. Lalu dia berkata, “O, tidak mudah kau ambil makan di sini kecuali sudah mendapat ijinku.”
“Kalau begitu ijinkanlah aku memakannya,” pinta kerbau.
“Silakan, asal kau mau memberikan sesuatu padaku,” jawab harimau. “Sebab setiap siapa datang kemari untuk makan rumput pasti berjanji akan memberikan sesuatu untukku. Bagaimana kalau kau besok memberikan hatimu kepadaku?”
Kerbau berpikir sejenak.
“Biarlah akan kuberikan padamu,” akhirnya kerbau berjanji akan memberikan hatinya kepada harimau.
Beberapa hari kemudian harimau menemui kerbau, tapi si kerbau sudah mengerti maksud kedatangan harimau.
“Bagaimana janjimu, kerbau?” tanya harimau,
“Kau terlalu cepat menagih janjimu,” jawab kerbau. “Sabarlah besok kalau badanku sudah gemuk.”
Selang beberapa bulan kemudian badan kerbau memang sudah nampak gemuk. Karena itulah, maka harimau ingin segera kerbau memenuhi janjinya. Tapi si kerbau tak mau menyerahkan hatinya. Dia ingin mempertahankannya. “Kenapa aku harus menyerahkan satu-satunya hatiku? Padahal hanya karena aku makan rumput di sini. Bukankah rumput ini juga milikku?” pikirnya.
Mendengar geram harimau, kerbau siap melawannya. Dan memang terjadilah pertarungan sengit antara dua binatang itu. Lama juga pertarungan yang nampak saling serang menyerang itu. Tapi akhirnya kerbau tak kuat menahan serangan harimau. Dia lari. Tapi harimau terus mengejarnya.
Di tengah perjalanan kerbau berjumpa dengan kuda.
“Ada apa kau lari terengah-engah?” tanya kuda terheran-heran.
“Aku dikejar harimau. Hendak membunuhku,” jawab kerbau tersengal-sengal.
“Jangan kuatir! Bersembunyilah di balik badanku!” suruh kuda.
Ketika harimau datang terjadilah perkelahian antara harimau dan kuda. Mereka saling dorong mendorong. Saling memagut. Saling ingin merobohkan. Tapi akhirnya kuda pun terpaksa mengakui keperkasaan si raja hutan.
Kuda dan kerbau terpaksa lari menemui banteng.
“Tolong kawan, kami akan dibunuh harimau. Dia mengejarku sekarang. Tolonglah …” kata kuda gelisah.
“Baiklah. Jika harimau ingin membunuhmu, biarlah dia membunuh si banteng perkasa ini lebih dulu,” ujar banteng bangga. “Mana dia sekarang?”
Belum lagi kuda dan kerbau menjawab, harimau telah melompat dan menerkam banteng. Dia menerjangnya sekuat tenaga. Terjadilah pertarungan sengit. Tapi akhirnya bantengpun terpaksa menyerah kalah. Mereka bertiga lari tunggang langgang. Sedangkan harimau terus mengejarnya, seolah belum puas bila belum memakan ketiga binatang itu.
Sampailah mereka di sebuah padang rumput dimana terdapat sebuah sumur tua. Mereka bertemu dengan kambing dan memberitahukan kalau mereka dalam keadaan bahaya, hendak dibunuh harimau. Dan tanpa banyak kata kambing segera bersiap membantunya. Dia mengoleskan buah kaktus hingga badannya merah.
Tiba-tiba harimau datang dengan geramnya.
“Kamu lihat kerbau dan kawan-kawannya?” tanya harimau garang.
“Ya, kenapa?” jawab kambing.
“Mereka hendak kubunuh.”
“Mereka telah kubunuh semua, karena menggangguku. Kau pun akan kubunuh jika menggangguku. Lihatlah badanku sampai merah begini. Ketiga binatang itu telah kubinasakan.”
“Dimana mereka sekarang ?” kejar harimau belum puas.
“Kalau kau ingin melihat mereka, tengoklah sumur itu!”
Harimau heran. Lalu dia melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Tapi belum lagi dia melihat isi sumur, banteng mendorongnya dari belakang hingga harimau terjerembab ke dalam sumur tua itu. Matilah harimau. ***


 ALWAYS REMEMBER : http://aakkuucintaindonesia.blogspot.com